|
05
Jan
|
Dua Anak di Kotim Diduga Terindikasi Terpapar Radikalisme Lewat Game Online |
kanalkalteng.com,Sampit-Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, mengungkapkan bahwa dua anak di wilayah Kotim terindikasi terpapar paham radikalisme setelah direkrut melalui permainan daring yang mudah diakses oleh anak-anak.
Baca juga: Polisi Tangkap Pelaku Penganiaan Wanita di Pahandut Palangka Raya
Irawati mengatakan, temuan tersebut diperoleh dari hasil pemantauan Densus 88 yang secara khusus datang ke Kotim untuk melakukan pengamanan dan pendalaman kasus.
“Awalnya anak-anak ini berinteraksi melalui game online Roblox, kemudian diarahkan masuk ke grup WhatsApp. Di sana mulai ditanamkan kebencian dan kekerasan,” kata Irawati, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, paparan paham radikal dilakukan secara bertahap dengan memanfaatkan ketertarikan anak terhadap permainan daring. Anak-anak yang menjadi sasaran umumnya masih berada pada usia sekolah dasar.
“Di dalam grup itu mereka diajarkan kekerasan, kebencian, bahkan cara melukai orang lain. Anak yang pernah mengalami perundungan biasanya lebih mudah dipengaruhi,” ujarnya.
Irawati menyebutkan, dua anak yang terindikasi tersebut saat ini berada dalam pengawasan aparat dan pemerintah daerah. Pendampingan dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polwan bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kotim.
“Anak-anak ini masih bisa dibina dan diarahkan kembali,” ucapnya.
Ia menegaskan, anak usia 5 hingga 15 tahun menjadi kelompok paling rentan terhadap pengaruh negatif di ruang digital karena belum memiliki kemampuan menyaring informasi secara matang.
“Karena itu, peran orang tua sangat penting. Jangan membiarkan anak menggunakan gawai tanpa pengawasan,” katanya.
Selain pengawasan keluarga, Pemkab Kotim juga membuka peluang untuk menyusun kebijakan daerah terkait pengaturan penggunaan gadget bagi anak usia sekolah.
“Ke depan akan kami koordinasikan. Paling tidak ada pengaturan, terutama untuk anak SD dan SMP,” pungkas Irawati.
Penulis : Yanti
Editor : Karana