|
08
Jan
|
Dua Anak Sekolah di Kotim Diduga Terkait Kasus Bom SMA Jakarta |
kanalkalteng.com,Sampit-Kasus pengeboman di salah satu SMA di Jakarta ternyata tidak berdiri sendiri. Hasil penelusuran aparat keamanan mengungkap adanya keterkaitan lintas daerah, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Dari pendalaman tersebut, dua anak asal Kotim tercatat berada dalam jaringan yang sama dengan pelaku.
Baca juga: Polisi Tangkap Pelaku Penganiaan Wanita di Pahandut Palangka Raya
Temuan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat sasaran jaringan tersebut bukan orang dewasa, melainkan anak-anak usia sekolah. Informasi itu diperoleh setelah aparat membongkar pola komunikasi pelaku melalui perangkat elektronik yang digunakan.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kotim, Rihel, membenarkan adanya data yang mengarah ke wilayah Kotim. Ia menyebut, setelah grup komunikasi pelaku ditelusuri, muncul sejumlah nama dari berbagai daerah.
“Setelah kejadian pengeboman di SMA Jakarta itu didalami, termasuk membuka grup komunikasi di HP pelaku, ternyata ada data yang mengarah ke Kotim, jumlahnya dua orang,” kata Rihel, Kamis (8/1/2026).
Meski demikian, Rihel menegaskan bahwa aparat penegak hukum belum membuka identitas kedua anak tersebut. Informasi yang diterima pemerintah daerah masih bersifat terbatas dan tidak mencantumkan detail jenjang pendidikan secara jelas.
“Dari Densus belum disampaikan identitasnya. Apakah mereka di tingkat SD atau SLTA juga belum dibuka. Yang ada hanya peringkatnya saja, dan ini masih bersifat privat,” ujarnya.
Rihel mengungkapkan, jaringan tersebut menggunakan pendekatan yang cukup halus dalam merekrut anak-anak. Media permainan daring menjadi pintu masuk awal sebelum mereka diarahkan ke ruang komunikasi tertutup yang berisi doktrin tertentu.
“Awalnya diajak main game. Dari situ pelan-pelan diajak ngobrol, ditanya macam-macam, sampai akhirnya masuk ke grup tertentu. Ciri yang terlihat, anak mulai menarik diri, menyendiri, dan enggan bergaul,” jelasnya.
Ia menambahkan, usia yang paling rawan terpapar berada di sekitar 12 tahun. Bahkan, sasaran jaringan tidak hanya menyasar pelajar SLTA, tetapi juga anak-anak sekolah dasar.
“Data yang kami terima, ada yang usianya baru 12 tahun. Dari SD sampai SLTA. Ini yang membuat kami sangat waspada,” tegas Rihel.
Menurutnya, upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan aparat keamanan. Peran keluarga menjadi kunci utama dalam mendeteksi perubahan perilaku anak sejak dini.
“Benteng pertama itu keluarga. Orang tua pasti paling tahu perubahan anaknya. Kalau ada perilaku yang tidak biasa, itu harus segera didampingi,” katanya.
Selain keluarga, lingkungan sekolah juga diminta lebih aktif. Rihel menekankan pentingnya peran guru bimbingan dan konseling dalam membaca tanda-tanda awal perubahan perilaku peserta didik.
“Guru BP dan pembimbing sekolah harus diperkuat perannya. Perubahan sikap anak di sekolah itu alarm awal yang tidak boleh diabaikan,” pungkasnya.
Penulis : Deviana
Editor : Baskoro