Header Korban Diduga Keracunan di Telawang Kotim Bertambah

Proses pemakaman nenek dari keluarga yang diduga keracunan di Telawang,Kotim (Foto: Istimewa)

Korban Diduga Keracunan di Telawang Kotim Bertambah

kanalkalteng.com , Sampit-Duka keluarga korban dugaan keracunan di Kecamatan Telawang, Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalteng, kembali bertambah.

Baca juga: Polisi Tangkap Pelaku Penganiaan Wanita di Pahandut Palangka Raya

Setelah seorang balita berusia 13 bulan lebih dulu meninggal beberapa hari lalu, kini sang nenek berusia 46 tahun juga tidak terselamatkan. Ia mengembuskan napas terakhir pada Kamis (11/12/2025) malam di RSUD dr Murjani Sampit.

Camat Telawang, Dedy Jauhari, mengonfirmasi kabar tersebut. Ia mengatakan, tambahan satu korban meninggal membuat jumlah kematian kini menjadi dua orang dalam satu keluarga.

“Info terbaru, neneknya yang meninggal, sementara yang hamil itu masih di rumah sakit. Cucunya yang usia 13 bulan itu yang pertama meninggal. Artinya sekarang ada dua korban,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).

Dedy mengungkapkan bahwa penyelidikan polisi masih berjalan untuk memastikan penyebab utama peristiwa tersebut. Hingga saat ini, pihak kecamatan belum memperoleh perkembangan terbaru dari penyidik.

Dugaan keracunan pertama kali mencuat setelah keluarga itu dikabarkan mengonsumsi makanan tertentu pada Jumat pekan lalu. Kondisi mereka memburuk dan baru mendapat penanganan medis dua hari setelahnya. Informasi kemudian bermunculan di media sosial, mengaitkan kejadian ini dengan es teler dan roti bakar yang disebut-sebut dikonsumsi korban.

Namun Dedy menegaskan bahwa kabar tersebut belum dapat dijadikan dasar. Tidak ada laporan resmi yang masuk ke polisi terkait dugaan makanan itu, dan aparat pun baru mengetahui kasus ini setelah korban meninggal.

“Kabar soal es teler dan roti bakar itu muncul belakangan. Itu pun dari medsos. Belum ada laporan resmi ke polisi yang memastikan hal itu,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan kejanggalan lain, yakni hanya keluarga tersebut yang mengalami gejala berat, sementara makanan yang disebut-sebut dikonsumsi korban banyak terjual dan dinikmati warga lain.

“Informasi yang beredar, banyak orang makan roti itu. Tapi kenapa hanya keluarga itu yang sakit? Ini juga jadi pertanyaan,” katanya.

Selain dugaan keracunan makanan, spekulasi lain ikut mencuat, termasuk adanya kemungkinan paparan merkuri. Informasi yang dihimpun dari warga menyebut keluarga tersebut bekerja sebagai pendulang dan pengumpul emas.

Meski demikian, Dedy menegaskan bahwa dugaan tersebut belum dapat dipastikan. Polisi belum menemukan bukti adanya aktivitas peleburan emas di rumah korban. Selain itu, keluarga disebut cukup tertutup sehingga proses pengumpulan keterangan tidak mudah.

“Belum jelas apakah ada peleburan. Kepolisian juga belum melihat itu di lokasi. Keluarga tertutup, sulit memberi informasi,” terangnya.

Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap es teler yang sempat dicurigai pun tidak mendukung dugaan awal. Labkesda Sampit hanya menemukan bakteri dalam jumlah kecil, yang dinilai tidak cukup menyebabkan keracunan berat hingga berujung kematian.

“Informasinya es teler itu sudah diperiksa, ada bakteri sedikit, tapi tidak cukup menyebabkan keracunan sampai meninggal,” jelasnya.

Dedy menambahkan, hingga kini aparat kepolisian masih terus mengumpulkan informasi, baik dari pihak keluarga maupun lingkungan sekitar, untuk mengungkap penyebab sebenarnya dari peristiwa tersebut.

“Kepolisian masih menggali keterangan untuk mencari kejelasan,” pungkasnya.

Penulis  : Heriyanto

Editor    : Heriyanto


Share this Post