Header Gelombang Tinggi 2,5 Meter Ancam Perairan Laut Teluk Sampit, Kalteng

Ilustrasi saat nelayan menerjang ombak untuk pergi melaut (Foto: unsplash)

Gelombang Tinggi 2,5 Meter Ancam Perairan Laut Teluk Sampit, Kalteng

kanalkalteng.com , Sampit-Badan Meteorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, memperingatkan adanya potensi gelombang tinggi yang dapat membahayakan aktivitas pelayaran, khususnya bagi nelayan kecil di kawasan Teluk Sampit.

Baca juga: PWI Kalteng dan UMPR Bentuk Lembaga Kajian Kritis, Soroti Dampak Pembangunan 

Prakirawan BMKG Rahmat Wahidin Abdi mengatakan, periode peningkatan gelombang diperkirakan berlangsung mulai Kamis (13/11/2025) hingga Sabtu (15/11/2025).

“Beberapa hari ke depan memang ada potensi gelombang tinggi 1,25 hingga 2,5 meter di wilayah perairan Teluk Sampit. Angin bertiup dari arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan maksimum sekitar 20 knot,” ungkap Rahmat, Kamis (13/11/2025).

Ia menjelaskan, kondisi tersebut juga dibarengi potensi hujan ringan hingga sedang pada siang hingga malam hari. Situasi ini dapat memperburuk kondisi laut dan meningkatkan risiko bagi nelayan tradisional yang masih bergantung pada perahu kecil.

“Gelombang dengan ketinggian serupa juga berpotensi terjadi di wilayah perairan Kuala Jelai, Kumai, Pangkalan Bun, Kuala Pembuang, dan Kuala Kapuas. Kami imbau nelayan untuk menunda sementara aktivitas melaut apabila kondisi angin dan ombak mulai meningkat,” ujarnya.

Rahmat mengingatkan, kecepatan angin di atas 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter dapat berisiko terhadap keselamatan perahu nelayan. Sedangkan untuk kapal tongkang, bahaya mulai meningkat ketika gelombang mencapai 1,5 meter.

BMKG, kata dia, juga akan terus memperbarui informasi prakiraan cuaca dan gelombang secara rutin.

“Kami akan memberikan pembaruan setiap hari agar masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna transportasi laut, dapat mengantisipasi sejak dini,” tutupnya.

Terpisah, menurut Rustam (45) seorang nelayan yang tinggal Pulau Hanaut, Kotim mengatakan, biasanya gelombang tinggi memang selalu terjadi setiap akhir tahun dan bisanya nelayan tak melaut.

“Kami tak mungkin berani melaut karena perahu kami sangat kecil, jadi mending menunggu cuaca kembali normal baru melaut lagi,”terangnya ketika dihubungi, Kamis (13/11/2025).

Penulis: Heriyanto

Editor  : Heriyanto


Share this Post